Me at A glaNce

Foto saya
GRESIK BERHIAS IMAN merupakan slogan kota kelahiranku. sekarang aku menempuh pendidikan S1 di Surabaya State University, The faculty of Language and Art, English Department. pendidikan ini aku peroleh karena aku berkesempatan mendapat beasiswa mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Mindset "The Beauty of Writing" tertanam sejak aku berada di bangku MTs setelah mengirim karya tulis ke Deteksi Jawa Pos. hobi menulis ku ini tertampung di media sekolah sampai akhirnya aku menjabat sebagai pemimpin redaksi mading SMA dan Reporter Majalah PROSPEK. it's amazing experience actually! sebelum aku menetap di kota Pahlawan untuk merampungkan studi ku, aku menulis sebuah buku panduan kepramukaan untuk adik didik ku di alamamaterku dan sekarang mencoba mengukir kembali buku baru yang berjudul " Scouting Guide " yang aku dedikasikan untuk mereka pula. aku temukan the great spirit of writing here. "Dahaga Akan Cinta dan Rindu Rosulillah" merupakan puisi ku yang menduduki posisi ketiga dalam lomba menulis puisi cinta untuk Rosulullah di Universitas Negeri Surabaya. (email: ali_rosyidi51@yahoo.com)

Kamis, 20 Januari 2011

CINTA JANGAN DINANTI

“aku tak mengerti Kang, tiba-tiba saja perasaan ini tumbuh pada diriku. Aku juga tak bisa menamai apakah ini perasaan cinta atau sekedar kagum. Setidaknya aku berani mengakui dan menyatakan bahwa aku menyimpan perasaan ini pada kang Ahmed” tutur Siti pada Ahmed.
“bagaimana bisa kamu mempunyai perasaan itu pada ku, Siti? Kita belum lama mengenal. Kamu belum mengerti siapa aku, bagimana latar belakang keluarga ku, dan bahkan kamu tak mengerti karakter ku.” tanya Ahmed seraya kebingungan.
“aku mengagumi Kang Ahmed” jawab Siti singkat.
“apa yang kamu kagumi dari aku, Siti? Aku tak mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan, aku bukan terlahir dari keluarga berada, aku bukan tipe orang yang suka berpergian bersama wanita, aku hanya orang biasa, aku…..”
“aku mengagumi pengetahuan agama Kang Ahmed. Aku mendambakan sosok imam seperti Kang Ahmed kelak ketika aku berumah tangga!” sahut Siti memotong penjelasan Ahmed.
“itu hanya sebatas perasaan kagum, Siti. Tak lebih dari itu!” Tegas Ahmed kembali.
“iya, Kang. Mungkin ini hanya sebatas perasaan kagum. Tak lebih dari itu. Bila Kang Ahmed meyakini seperti itu. Terima kasih sudah meyakinkan Siti kalau apa yang aku rasakan ini tak lebih dari sebuah kekaguman.” Ujar Siti melemah akan perasaannya.
Ahmed, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Yogyakarta, tak bisa menerima fakta bahwa Siti memiliki sebuah perasaan cinta padanya setelah selesai menempuh tugas kuliah. Ahmed tak percaya apa yang dirasakan Siti adalah sebuah perasaan cinta. Pasalnya, mereka baru mengenal tak lebih dari delapan puluh tujuh hari. Waktu yang terlalu singkat untuk mendiagnosa bahwa perasaan yang dimiliki Siti adalah benar-benar perasaan cinta.
Mereka dipertemukan saat menempuh program kuliah kerja nyata di Wonosari, Gunung Kidul bersama dengan enam belas mahasiswa lainnya. Tak lebih dari tiga bulan mereka tinggal disana, tentu tak seatap. Lingkungan Wonosari membuat kelompok kerja tersebut lelap dalam hitungan bulan. Udara segar, sejuk nan pemandangan yang asri membuat mereka betah bahkan menikmati tugas berat kampus di sana walau mereka harus berpisah dengan keluarga. Apalagi, masyarakatnya yang merakyat. Ramah dan penuh keakraban. Semua terasa indah dan penuh kenangan.
Diam-diam Siti telah membukukan kenangan itu di benakknya hingga suatu hari ia mempublikasikan pada Ahmed satu dari ribuan kenangan terindahnya. Tak menduga, kenangan terindah itu adalah Ahmed. Siti menyukainya. Tentunya ini adalah diluar sepengetahuan Ahmed karena Siti tak memperlihatkan gelagat cintanya itu saat mereka bersama-sama di Wonosari. Ahmed tak menduga jika Siti diam-diam memandang Ahmed dengan penuh pesona.
Namun, cinta Siti nampaknya tidak mendapat respon positif dari Ahmed karena dia benar-benar takut bahwa perasaan yang dimiliki Siti hanya sebatas kekaguman, tak lebih dari itu. Ahmed terlalu hijau untuk memahami apa arti cinta sesunggunya. Karena dia memiliki ribuan perspektif makna cinta yang dia peroleh dari pertualangan cinta sahabat-sahabatnya. Cinta tak sekedar dari sebuah pelampisan—ego dan nafsu. Itu salah satu makna cinta yang membayangi Ahmed terhadap cinta yang ditawarkan Siti padanya. Jika benar itu adanya, dia takut rahmat Allah akan menjauhinya.
Ahmed bukanlah orang yang suci, bersih, dan putih hatinya. Ahmed juga tak menampik bahwa dia juga memiliki perasaan sama dengan lelaki pada umumnya—menyukai wanita. Ahmed juga mengiyakan bahwa dirinya tak lebih dari orang biasa. Karena kehidupan yang biasa itulah, dia menganggap bahwa hubungan pertemanan yang tak biasa akan menempatkan dirinya pada posisi serba salah. Bagaimana ini bisa? Lihat saja, tak jarang beberapa pasangan mengorbankan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi mereka bahkan merelakan diri kelak sebagai bahan bakar neraka karena berbuat zina. Bila salah satu pasangan menolak untuk bersuara “iya”—sepakat untuk berbuat sama—maka percekcokan yang berujung pada permusuhan bahkan pembunuhan keluar sebagai jalan akhirnya. Jika benar ini adanya, lantas kenapa harus menjalin pertemanan tak biasa? Susah!!!
Nampaknya Ahmed dihadapkan pada dilema cinta; memilih cinta untuk sahabat atau kekasih. Detik menyatu menjadi menit, menit menggumpal menjadi jam, dan jam menggunung menjadi hari. Ya, berhari-hari dilema cinta ini melintas di benak Ahmed setelah program kampus itu usai dan tak lagi bertemu dengan Siti di kampus. Rasa bersalah karena tak memberikan kepastian akan sebuah ungkapan perasaan seorang wanita nampaknya masih menhantui Ahmed akhir-akhir ini. Dia tak memiliki keputusan untuk mengatakan iya atau tidak karena keraguan akan perasaan Siti sesungguhnya. Perasaan yang tak seharusnya diabaikan bahkan dipermainkan. Aksi merupakan bentuk apresiasi sebuah ekspresi. Lalu kenapa Ahmed tak juga memberikan aksi atas ekspresi Siti?
Ahmed masih membutukan banyak waktu untuk berkontemplasi menentukan jalan terbaik baginya. Dia kembali mengatakan bahwa ini adalah masalah surga dan neraka. Bukan masalah senang atau tidaknya. Bila salah dia memilih maka dia akan menjadi ahli neraka hanya karena wanita. Terlalu jauh sebenarnya Ahmed berpikir kesana. Dia tak memikirkan perasaan Siti bahkan dia mengabaikan waktu yang merupakan penantian menyiksa bagi Siti. Inikah bentuk perjuangan cinta Siti?
Namun, bukankah untuk mendapatkan cinta sejati penuh dengan perjuangan dan tantangan yang tak berujung? Bukankah untuk mendapatkan cinta sejati tak mengenal lelah untuk menanti atau menunggu? Bukakankah untuk mendapatkan cinta sejati tak peduli siang dan malam? Dan bukankah untuk mendapatkan cinta sejati bagai mencari peniti di gundukan jerami? Lantas, apakah Siti telah memahami ini semua untuk mendapatkan cinta sejatinya? Mungkin ini yang ditakutkan Ahmed bila cinta Siti bukan cinta sejatinya maka hanya akan ada nafsu diantara mereka. Lebih baik tidak terjadi untuk selamanya bila harus menyakiti keduanya.
*****
Sinar pagi itu menerobos celah jendela rumah Ahmed menerawang dia terdiam terpaku mendengarkan radio yang besuara lirih di pojok peristirahatannya. Lirik lagu itu menggambarkan sebuah perjuangan cinta yang tiada akhir hingga maut tak lagi memberikan kesempatan baginya untuk beraksi. Menanti, menunggu dan berharap kelak akan mendapati cinta sejati.
Biar kuungkap cinta
Cinta begitu besar
Biarkan itu menjadi
Rasa indah yang ku miliki
Cinta tak sepantasnya
Tertutup tertepis saja
Biarku ungkap semua
Perasaanku terhadap mu
Ku pasti bisa bahagiakan dirimu
Secepatnya sebekunya takkan perasaanku
Slama ini
Biarkan kini ku tunggu pasti
Jawabanmu membalas cintaku
Cintamu jangan dinanti-nanti
Cintaku pasti kan sampai mati
Janganlah ada ragu dihati
Ku tak akan membuatmu terluka
Cintamu jangan dinanti-nanti
Cintaku tulus kan sampai mati
Biarkan kini ku tunggu pasti
Jawabanmu membalas cintaku
Cintamu jangan dinanti-nanti
Cintaku pasti kan sampai mati
Janganlah ada ragu dihati
Ku tak akan membuatmu terluka
Cintamu jangan dinanti-nanti
Cintaku tulus kan sampai mati
“Assalamualaikum……..” berkali-kali suara itu menggaung di rumah Ahmed seraya mengetuk pintu. Namun, Ahmed masih saja merenung dan menikmati indahnya lirik lagu yang dibawakan grup band ternama, ST 12, setelah bersih-bersih di halaman rumah. Tak satupun orang yang mendengar suara lantang itu di rumah.
“Assalamualaikum!!!!!” suara itu semakin kencang menggaung.
“waalaikum salam…….ngapunten, pak. Mboten keprengu.” Jawab Ahmed tergopoh-gopoh, “wonten nopo, ngge?” Tanya Ahmed sambil melihat sepeda oranye bapak setengah matang itu.
“oh, ini mas. Dapat kiriman pos.”
“matur nuwon, pak.”
Tak jarang Ahmed mendapat kiriman pos di rumahnya, tapi tidak untuk warna amplop yang satu ini. Ahmed merasa penasaran hingga dia mendapati alamat pengirim surat ini. Di situ tertulis; American Corner Universitas Indonesia, Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kampus UI, Depok 16424. Dia semakin penasaran apa isi surat itu. Akhirya perlahan dia membuka surat itu. Tiba-tiba saja, mata Ahmed berkaca-kaca tetapi dia tersenyum lebar.
“ibu…..” teriak Ahmed sambil menemui ibunya di dapur.
“ono opo toh le?” Tanya ibu Ahmed kebingungan.
“aku dapat beasiswa ke Amerika selama dua tahun untuk S2. Ini kan yang ibu dan bapak harapkan. Ini berarti aku tidak kalah dengan Mas Parto dan Mbak Umi yang ibu bangga-banggakan pernah sekolah di luar negeri.”
“beneran toh le?”
“ini barusan pak pos ngasi surat ini. Aku arep nang Jakarta bu minggu ngajeng kangge pelatihan. Aku bunga bu. Wulan ngajeng kulo badhe tindak Amerika, bu. Nyuwon pandhongane, bu”
Rupanya amplop cokelat itu berisi berkas beasiswa ke Amerika untuk Ahmed. Ini sangat menyenangkan bagi Ahmed dan keluarga karena ini adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu. Lantas, bagaimana dengan Siti? Akankan cinta Siti akan pudar dengan kepergian Ahmed ke luar negeri? Hanya Allah yang tahu akhir catatan cerita cinta Siti kelak. Tak ada yang bias menampik pasangan hidup manusia. Itu adalah keputusan mutlak yang tak bisa digugat dan diperkarakan. Wallahualam…..

Gresik, 28 Maret 2010
08:17

CATATAN DI HARI KE-365

(Dari Bapak dan Ibu untuk Aku)

Nampaknya Dewi Malam tersenyum menyambut pergantian malam tahun baru masehi 2010. Wajahnya terang keemasan memancarkan cahaya seakan mengkiaskan kebahagiaan yang dirasa. Laksana memiliki simpati dan toleransi yang tinggi, ia tak mau menyita rasa itu sendiri. Ia berbagi dengan yang lain melalui pancaran sinar terang wajahnya. Makhluk sekitar dapat pula tersenyum simpul atas kehadirannya. Dewi Malam menemani diri ku saat hari ke tiga ratus enam puluh lima di tahun ini. Aku sendiri—merasa lemah dalam istana kasih seorang ibu yang memagari langkah ku sebagai remaja pada umumnya.
Dewi Malam bisa berbagi kebahagian, bisa memahami perasaan, dan bahkan bisa mengalahkan ego-nya saat Dewi Fortuna memanahkan kemujuran tepat di hatinya. Namun, tidak bagi ibu ku. Dia terlalu konservatif memaknai arti kasih sayang kepada anak semata wayangnya dan terlalu mendalam memahami pengertian cinta pada anak hingga kemeriahan pesta kembang api di pergantian tahun yang dapat dilihat jutaan pasang mata di tengah pusat kota itu tak bisa dinikmati anaknya secara langsung. Terlalu menyakitkan!
Bahwa sejatinya aku ingin bebas dan bebas terbang seperti burung di angkasa bila waktu pulang, dia akan kembali ke sangkar. Arti sebuah kebabasan yang diajarkan induk burung seakan menutup halaman buku ibu yang menjabarkan makna kasih sayang. Itu kebebasan yang aku inginkan walau seutuhnya tak pernah aku dapatkan. Kasih sayang yang ibu terjemahkan, penyiksaan batin yang aku rasakan. Semoga saja, aku salah menafsirkannya walau itu memang benar kenyataannya.
Tak bisa aku mengelak atau menentang keputusan ibu. Baginya hal itu adalah harga mutlak yang tak bisa ditawar lagi. Aku hanya bisa menjerit keras dan sangat sangat keras, itu pun hanya dalam hati. Aku tak bisa merubah apa yang sudah ditetapkannya. Bila aku sedikit bergerak, bapak berdiri tegak dibelakangnya. Sama saja, keduanya memiliki perspektif yang sama—merayakan pergantian tahun tidak harus menggoyangkan pinggul, adu suara motor di jalan, pulang malam hanya untuk melihat kembang api, dan atau berpesta ria bergilir segelas air. Banyak hal positif yang lebih afdlol dilakukan dari pada membuang detik, menit, dan jam untuk hal-hal yang kurang penting bagi diri sendiri.
Ibu sepakat dengan apa yang dikatakan bapak bahwa esensi pergantian tahun adalah suatu perubahan/perpindahan waktu atau masa setelah menghabiskan tiga ratus enam puluh lima hari dalam satu tahun tertentu. “Apa yang harus dirayakan kalau begitu? Jika tahun bertambah, bukankan usia bumi semakin tua dan itu mendekatkan manusia kepada akhir zaman. Kemudian kenapa manusia merayakannya? Kata merayakan identik dengan membahagiakan. Jika manusia dihadapkan dengan akhir zaman—masa yang sangat mengerikan dan dekat dengan kebodohan kemudian mereka merayakannya dan berbahagia, apa itu disebut kaum intelektual?” Tanya bapak.
Ibu juga menambahkan bila esensi pergantian tahun seperti itu adanya maka sebaiknya di akhir detik, menit dan jam sebelum tahun berganti sebaiknya dipergunakan sebagai momentum yang sangat pas untuk introspeksi diri tentang apa yang sudah kita perbuat selama tiga ratus enam puluh lima di tahun ini. Lebih banyak mana bobot positif atau negatif amal perbuatan kita bila ditimbang-timbang? Sehingga kita dapat bercermin dari refleksi tersebut terhadap apa yang seharusnya kita perbuat di tahun mendatang bukan malah melalaikan momentum ini dengan kemeriahan yang tidak jelas ujungnya.
Oleh karena itu, momentum yang pas ini dapat kita isi dengan renungan malam, bertahajjud kepada Allah SWT, memohon ampun atas segala khilaf yang sudah kita perbuat dan memohon hidayah untuk kebaikan di masa mendatang. Hal itu dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dan menambah ketebalan iman dan taqwa kita. Apalagi Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Kesederhaan dalam hidup merupakan kunci untuk mengingat bahwa hidup ini ada yang mengatur sehingga tidak perlu untuk membentangkan ketiak ketika berjalan. Sopan dalam bertindak dan santun dalam bertutur merupakan salah satu kunci untuk menjalani hidup sederhana. Tidak harus berfantasi ria dalam gemilang kehidupan dunia. Mereka yang melakukan itu mungkin mereka benar-benar tidak tahu. Walaupun itu tidak menyalahi aturan agama bahkan undang-undang Negara sekalipun. Namun, bila dihadapkan pada dua pilihan tadi dengan imbalan surga dan neraka sebagai destinasi akhir setelah mati nanti, mana yang akan kau pilih?
Aku sangat menyadari kebijakan ibu dan bapak selama ini adalah untuk menggiring aku ke satu arah, yakni menuju jalan yang digariskan Allah SWT agar aku bisa berkumpul bersama orang-orang terpilih di surga-Nya kelak. Hal yang sangat istimewa dan membanggakan yang patut dijadikan teladan dari ibu dalam mendidik anaknya—pendidikan religi yang mungkin tidak semua anak dapatkan dari ibunya. Ternyata, kasih sayang orang tua benar-benar sepanjang masa, ternyata kadang sebagai anak tidak mampu memaknai perbuatan dan kebijakan orang tua. Orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya.
Akhirnya, aku bisa meneteskan air mata saat benar-benar memahami pelajaran dalam memaknai pergantian tahun ini. Banyak hal sangat penting untuk dilakukan dari pada sekedar melihat kembang api menganga di hamparan langit yang petang menghitam. Terima kasih oh ibu, terima kasih oh bapak. Aku, anakmu, masih membutuhkan tangan mu untuk melangkahkan kaki di bumi ini agar bisa berpijak pada tanah yang benar, tanah yang diridloi oleh Allah SWT.

Usia mu kini bertambah tua
Manusia menjerit tertawa sangat bahagia
Memaknai ini adalah pesta
Ini adalah tabir penghapusan dosa
Dan, membuka lembar putih yang ada

Mereka buta,
Mereka hanya bisa meraba-raba
Ini yang dinamakan pestanya dunia
Bahkan menciutkan arti sesungguhnya—
Dunia menuju fana

Tutuplah mata,
Sekedar ingat dan bayangkan sementara
Logika pergantian tahun dalam makna—
Sebenarnya kau dalam kerugian yang nista.


Gresik, 31 Des ‘09
21:49

KADO HARI IBU DI SURGA

“Shafia!” teriak ibu memanggilku, “darimana saja kamu? Apa kamu tidak mendengar berkali-kali aku memanggil mu? Bereskan barang-barang belanjaan bapak mu di luar! Taruh barang itu di dalam lemari yang paling selatan! Setelah itu kamu ambil ember di sebelah rumah dan angkut semua kotoran ini ke dapur! Ingat! Jangan sampai menyisakan bekas!” berhari-hari kalimat seru itu menyertai teriakan nama ku sebelum aku pergi jauh—tiada yang lagi bisa memandang ku.
Nama ku adalah Shafia. Anak pertama dari pasangan keluarga sederhana yang berprofesi sebagai pedangan bakso keliling di desa. Ibu dan bapak sangat menyayangi ku. Tak pernah mereka menyuruh ini dan itu untuk kepentingan dagang mereka. Hanya saja aku ingin meluangkan waktu ku untuk membantu mereka setelah pulang sekolah—setidaknya mengiris bawang merah dan sesekali memasukkan bumbu ke kuah bakso. Aku masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar. Sementara adik lelaki ku masih mengeyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak. Meskipun aku, adik, ibu dan bapak terhimpit dalam hidup sederhana, namun kami sangat bersyukur dengan kesederhaan itulah kami bisa merasakan sebuah kebahagiaan. Kami hidup sangat bahagia.
Namun kebahagiaan itu terkubur dalam-dalam seiring pemakaman ibu ku. Ibu meninggal karena menderita penyakit Liver. Ibu tidak pernah cerita atas beban hidupnya. Mungkin karena tidak ingin membagikan penderitaan itu ke anggota keluarga untuk memikirkan pengobatanya. Ibu sangat memamahi kondisi ekonomi kelurga kami. Aku sangat menyesalkan ke-egois-an ibu. Namun semuanya sudah terlambat, ibu sudah tak mampu lagi untuk bercerita dan membagikan penderitaannya.
Penderitaan ku dimulai ketika bapak berpikiran untuk menggantikan posisi ibu di tengah-tengah keluarga kami—bapak ingin menikah lagi. Aku hanya anak yang berusia sepuluh tahun. Aku masih sangat hijau untuk mengerti permasalahan keluarga dan bahkan tak mampu memahami perasaan bapak. Itu anggapan bapak tentang gadis cilik yang ia sayangi saat ibu masih ada. Dan mungkin kasih sayang itu berangsur luntur sekarang. Yang sangat aku sesalkan, bapak ingin menikah sebelum genap empat puluh hari kematian ibu. Bagiku itu terlalu cepat. Aku masih tak bisa melupakan ibu dengan waktu sesingkat itu. Aku sangat menyayangi ibu. Aku masih ingin berada di pelukannya saat aku ingin dimanja. Apalagi adik ku yang sering memanggil-manggil nama ibu. “ibu, kenapa engkau tinggalkan kami secepat itu?” aku meneteskan air mata.
Ternyata bapak tidak main-main dengan pemikirannya, beliau telah membicarakannya dengan anggota keluarga bapak dan ibu setelah sepenggal pemikiran itu melintas di telinga ku beberapa hari yang lalu. Bapak berjanji untuk mencarikan sosok wanita yang dapat menyayangi anak-anaknya, memahami kondisi ekonomi keluarga dan setia kepada bapak tentunya. Semua anggota keluarga sepakat untuk mengatakan iya. “iya, kamu boleh menikah lagi bila kamu mengerti akan hal itu” tegas kakek.
Aku menghargai keputusan bapak untuk menikah lagi. Sebagai anak, aku hanya bisa patuh dan tunduk terhadap apa yang menjadi pilihan bapak sehingga aku berharap apa yang menjadi keputusan bapak ini adalah yang terbaik baik bagi bapak, aku dan adek. Akhirnya, bapak pun menikah dengan wanita yang bernama Syarifah—perawan yang berusia matang di tetangga desa—yang seterusnya ku sebut ibu tiri.

“Shafia, Ahmed, ibu Syarifah adalah ibu baru kalian. Kalian harus memanggil beliau ibu” ujar bapak kepada aku dan adik.
“Ahmed, kemari sayang…..” sahut manis ibu tiri. “ayo Shafia…..salaman sama ibu. Kemari sayang…..ayo kamari!” tambahnya.

Aku masih takut dan malu pada ibu tiri—sosok wanita yang sering digambarkan sebagai tokoh terjahat dalam rumah. Namun, praduga itu aku tepis jauh-jauh. Aku berharap tokoh terjahat itu hanya terjadi pada dunia fiksi. Aku tak menginginkan rumah ku yang damai hancur hanya karena kehadiran ibu Syarifah.
Ibu Syarifah ternyata tidak seperti yang aku dan mungkin orang lain pikirkan. Ibu tiri itu sangat baik dengan ku dan adik apalagi dengan bapak. Bapak kelihatannya sangat bahagia. Beliau dapat tersenyum lepas setelah tiga puluh empat hari kepergian ibu. Aku pun ikut bahagia bila bapak dapat kembali tersenyum. Aku, adek, dan bapak ternyata terlena dengan kehadiran ibu Syarifah. Kami tanpa menyadari telah melupakan ibu yang telah bersanding dengan-Nya. Kami terlalu bahagia dibuat ibu Syarifah.
Namun, kebahagiaan itu tenyata hanya mampir saja, tak kekal menetap untuk menggantikan kesunyian suasana keluarga kami. Tepat sehari setelah empat puluh hari meninggalnya ibu, ibu Syarifah berubah menjadi sosok yang aku takutkan. Beliau sangat kejam dan otoriter—selalu memerintah. Bahkan lebih kejam dari apa yang telah digambarkan dalam cerita fiksi kisah ibu tiri. Ibu Syarifah tidak peduli ada bapak atau tidak, beliau dengan beraninya menyuruh aku mencuci piring, mangkok, dan bahkan baju. Bapak hanya diam bahkan sesekali bilang, “ayo, ndok ! Ibu dibantu biar cepat selesai pekerjaannya.” Kalimat itu pertama kali muncul selama berada di rumah ini. Bapak lebih membela istri barunya dari aku dan adik. Bahkan bapak sering membentak ku hanya karena aku sesekali tidak menyentuh pekerjaan rumah tangga yang seharusnya menjadi kewajiban ibu Syarifah.
Hidup ku hancur tak tertata lagi. Hari-hari ku dipenuhi oleh isak dan tangis. Mengeluh dan bertahan untuk tabah. Bahkan omelan tidak datang dari bapak dan ibu Syarifah, bahkan ibu dan bapak guru di sekolah tak jarang marah dengan ku karena aku sering tidak mengerjakan tugas sekolah. Aku sadar, aku tak pernah berkesempatan untuk membuka bahkan menyentuh apa yang sudah ibu dan bapak guru ajarkan di sekolah setelah aku pulang. Ibu tiri langsung menelurkan petir di terik matahari. “Shafia! Ganti baju dan langsung cincang bawang merah itu!” perintah ibu Syarifah. Hampir tak ada kata yang terucap dari bibir ku dan bila ada, aku memilih untuk menelannya dari pada nanti mendapat pelajaran tambahan di rumah dari ibu Syarifah—cacian dan makian.

“e! kamu nggak ada harganya disini. Bapak mu itu sudah tunduk dengan aku. Apapun yang aku minta, dia akan turuti. Termasuk menitipkan mu di panti asuhan! Hanya saja itu belum waktunya. Toh belum genap seratus hari arwah ibu melayang-layang di langit. Dan ingat, kamu dan adikmu hanya sebagai pembantu di rumah ini. Ingat, PEMBANTU!

Jarum jam berputar menjadi detik, menit, dan jam dan akhirnya mengubah pagi, siang, dan malam untuk bergantian mengisi dunia. Tidak hanya dunia ku namun dunia manusia sejagat raya yang berisi tawa, canda, bahagia, tangis, sedih, dan duka. Dan tiga kata dari belakang itu yang sekarang mengisi hari-hari ku. Aku sangat kecewa dengan bapak. Bapak telah mengabaikan aku dan adik hanya karena ibu Syarifah yang tak berperasaan. Aku tak dianggap anak melainkan sekedar pembantu. Hati ku teriris kecil-kecil laksana aku mencincang bawang merah. Aku terperkosa—jiwa dan raga ku. Mereka menggangap ku sampah. “tidakkkkk………..” hati ku menjerit sakit.

“bapak, engkau memang benar. Aku hanya anak ingusan yang berusia sepuluh tahun. Aku hanya anak yang terlalu hijau untuk mengerti permasalahan keluarga bahkan engkau sangat benar jika aku tak bisa memahami perasaan bapak. Aku mengalah dan aku ingin menangis atas kemisnikan hati bapak untuk memahami perasaan anak mu ini. Aku terluka, bapak. Engkau yang tak mampu meraba hati mu betapa engkau telah buta. Hati ku menggerutu.

Aku tak punya teman untuk bercerita. Tak mungkin aku berbicara pada kakek atau saudara-saudara bapak dan ibu tentang masalah ini. Mulut ku terkunci rapat. Tangan ibu Syarifah menyekap ku paksa. Bila tidak, tangan itu berubah menjadi cemeti yang siap meluluh lantahkan tulang-tulang ini. Diam menjadi pilihan terbaik sepanjang masa. Aku mengalah pada keadaan walau aku tahu, itu tidak baik. Aku hanya berani untuk menyimbolkan perasaan ku melalui coretan tinta hitam. Itupun saat aku berada di sekolah.

Aku menangis…
Aku menangis, ibu!
Hati ku teriris-iris kecil dan rapuh.
Jiwa ku membiru dan pilu.
Jiwa ku! jiwa ini terampas, terkoyak tak menyatu.
Aku ingin bersama mu.
Bersanding dengan mu.
Aku sangat rindu….., ibu!

Alam tak melihat ku!
Mentari tersenyum syahdu.
Tak mengerti isi kalbu—
Lara dan perih yang sengaja membisu.
Aku teraniaya oleh nafsu.

Ini hari terindah dalam penantian ku.
Hari teristimewa selama kepergian mu—
HARI IBU.
Ibu! Ingin ku kau jemput aku…
Di pintu kebahagiaan abadi di sisi mu.
Aku merindukan mu.
Aku kan datang untuk mu!

Karya Shafia untuk Ibu

Kini aku tak perlu menulis puisi untuk membagikan perasaan duka yang selama ini aku alami. Bahkan sekarang aku bahagia—sangat bahagia—karena aku bisa bersanding dengan ibu kandung ku sesuai dengan penggalan isi puisi itu. Tak ada kalimat seru yang menyertai ketika ibu Syarifah menyebut nama ku. Aku bebas dan sangat bebas dari kejamnya dunia ibu Syarifah. Namun demikian, aku harus berterima kasih kepada beliau. Kerena melalui tangan sadisnya, aku bisa bertemu dengan ibu di surga. Kado terindah sepanjang hidup yang diberikan ibu tiri di hari ibu—kematian. Walau sebernya itu bukan jalan terakhir untuk menggapai kebahagiaan hakiki yang ditetapkan oleh agama ku. Aku tak berdaya. Ibu tiri sudah terlanjur menyudahi hidup ku dengan tangannya. Adik, tabahkan hati mu.

Gresik,
20 Desember 2009
Pukul 22:17

Minggu, 13 September 2009

CORETAN PPL II UNESA DI SMA NEGERI 1 MANYAR

Dua bulan telah berakhir mengarungi segala permasalahan bersama, ANTARA AKU, KAMU dan DIA Tak ada yang bisa aku katakan apalagi aku ungkapkan melalui kata-kata lebar yang memanjang dan bermakna. Sejenak aku flashback dengan apa kita alami bersama. Aku tertawa kecil dan sedikit hati ku menggerutu, ”aku akan mengingat mu, kawan!”

Seperti orang bijak katakan, dimana ada pertemuan disitulah akan ada perpisahan. Tapi, akankah ada perpisahan diantara kita, teman?” semoga hanya kematian yang bisa memisahkan dan memutuskan kenangan yang kita coretkan bersama di lembaran kehidupan kita semasa menempuh tugas mulia negara (PPL II, red). Walaupun bebannya tak seberat yang diemban PRESIDEN KITA hehehehe..............

Aku bangga mempunyai teman seperti kalian. Teman yang bisa ditertawakan dan teman yang bisa dicaci hanya untuk menghibur diri. Namun, bukan itu maksud hati ku. Aku hanya ingin membuat suasana persahabatan lebih akrab dengan lelucon hangat ku. Walau aku tahu. Aku salah dalam memilih jalan itu. Oleh karena itu, aku minta maaf teman atas segala khilaf dan dosa yang pernah raga ini lakukan. Tapi ingat, jiwa ini tak seperti itu dalam bertindak dan memandang mu.

Teman, banyak yang aku dapat selama kita bersama. Banyak yang aku pelajari dari cara kalian bertingkah dan berpikir serupa. Itu yang membuat aku akan mengenang dan menyimpan kenangan terindah saat berada di bangku kuliah. Karena kenangan ini tak akan aku peroleh di disana. PPL II UNESA...........

Semoga kalian mengingatku dan semoga kalian selalu teringat akan sosok ku yang mungkin pernah menyakiti kalian, jasmani dan rohani. Tak banyak yang bisa aku katakan dan tinggalkan untuk mengenang hari-hari indah tentang kebersamaan kita. Hanya coretan ini yang mungkin sedikit bisa mengingatkan mu pada aku, aku yang selalu mengingatmu.

Coba aku ingat nama panggilan kalian, INGAT NGGAK ya?

Ada fitri, fifi, yeni dan ajeng dari biologi. Ada lagi dari jurusan itung-itung, matematika. Emmmm yusfi, tanti, fenti dan agnis. Kalo jago itung-itung uang tak nggak pernah pegang uangnya, nich dia dari jurusan ekonomi, ada nila,pipit, ijjah dan hasnah. Tak ketinggalan dari jurusan BK. Ada sapa yach? Oh ya ada dian, novi, ela dan eli. Kalo dari jurusan bahasa ibu (indonesia) Cuma ada chandra ’n fitri. Terakhir jurusan ku, bahasa inggris, hai indah yang cengeng, nurus, en agus……………..

masih ingat kan, berarti aku masih mengingat mu, teman. BAGAIMANA DENGAN KALIAN?????

Air mata mu tak akan mampu membayar kenangan yang telah kita ukir bersama bila kalian tak sanggup untuk sekedar menegur sapa diantaranya. Sejenak kita lupakan bersama kesalahan yang pernah kita perbuat, dan ingat kepada-NYA. Allah Maha Segalanya………………….

SALAM PUSPA (bayangkan saat kita ngucapin yell-yell ini)..................

ANEKA JILBAB 2009

Jenis-jenis jilbab:
1. KCB (Ketika Cinta Bertasbih)
2. AAC (ayat-ayat Cinta)
3. Marissa
4. Amirah
5. Nabila
6. Khumairoh
7. Te Nini
8. Zaskia
9. Belahan Jiwa

Anda bisa memesan sesuai selera dengan motif yang anda inginkan!

Jangan khawatir masalah harga karena jilbab ini FIRST-HAND dari produsen.
Anda bisa dapatkan barang berkualitas langit tapi kantong irit. Mulai dari Rp. 15.000 hingga 100.000!!!!!


(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

(6)


(7)







Selasa, 08 September 2009


PERSUASIVE ESSAY

THE GOVERNMENT’S ACTION TOWARDS GLOBAL WARMING

Global warming is not a strange term for us anymore. The issue comes up when the world faces a climate change recently. It causes many single countries to take care of their environment in order to mitigate the total number of emission gas in the world. Because the main cause of this problem is the increase of the emission gas. The government of each country asks the society pay attention to this matter which becomes the world issue. Although Indonesia is not one of the chosen countries as the industrialized country written in Kyoto Protocol but the government of Indonesia also takes a part of this matter by persuading its citizen to keep the environments in order to decrease the total number of emission gas in the world and prevent global warming happens continuously.

The government does emphasize the society in order to reduce the use of emission gas whether for industries or houses. Based on Kyoto Protocol, the main causes of happening this matter is the increase of the emission gas in the world. So, every single country has the same burden of responsibility to mitigate the total number of emission gas. By doing this effort, the government expects to be able to take a part in the world’s cases.

On the other hand, government asks the society not to cut the trees down freely. Because it causes the bad impact towards a climate circle then it influences the climate change. Moreover, forest fire often happens in Indonesia. It will give an awful distribution as well. Therefore the government endeavors to solve this kind of matter in order to mitigate the total number of emission gas in the world.

The great work of the government is that making a social independent movement with reference to solving the world’s case. The government makes a movement which is concerned in helping the government’s job to socialize the danger of global warming impact towards the society. By this movement, the government is sure that all citizens will know about this issue and be aware of their duty as a decent citizen.

In conclusion, the government’s effort of socializing global warming in the society is very helpful in order to mitigate the total number of emission gas in the world. The government’s way of persuading the society can be done by announcing the danger of global warming impact so that the society will seriously think what they should do to maintain world still save. The government, however, must be consistent of his work to pay attention to the environment in all situations.

Rabu, 10 Juni 2009

UPACARA ADAT MASYARAKAT DESA KISIK



AKULTURASI KEBUDAYAAN HINDU-ISLAM DALAM UPACARA ADAT MASYARAKAT DESA KISIK
(Studi Lapangan)

Oleh:
Tim Riset Antropologi SMA Assa’adah
(Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial Angkatan 2005-2006)
(M. Abdad Albas, Abdullah Afif, Ahmad Barok, Feri Irawan, Ahmad Fauzan, Ali Ihsan, Ainul Mustofa, Agus Budianto)

Rewriter,
Ali Rosyidi






BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Desa kisik merupakan salah satu diantara beberapa desa di kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Secara geografis, desa ini terletak diantara perkebunan dan persawahan. Desa ini terhitung sebagai desa agraris karena mayoritas penduduk pribumi mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian walaupun sebagian masyarakatnya juga memilki profesi sebagai karyawan di berbagai industri di wilayah kabupaten Gresik.
Desa merupakan tempat sekumpulan masyarakat yang setidaknya memiliki pemerintahan di dalamnya. Dalam masyarakat itulah muncul berbagai macam kebudayaan yang seterusnya dilestarikan oleh penduduk yang dianggap sebagai eksistensi keberadaan suatu kehidupan apabila memiliki nilai positif bagi perkembangan masyarakat setempat. Seperti halnya, kebudayaan yang dikemas oleh masyarakat desa kisik melalui upacara adat.
Upacara tersebut merupakan warisan tradisi leluhur yang secara turun-temurun dibudayakan oleh generasi selanjutnya karena memiliki unsur cultural dan historical terhadap eksistensi desa kisik. Selanjutnya, hal ini akan dibahas dalam sejarah asal-usul desa kisik.
Upacara adat masyarakat desa kisik ini adalah bentuk apresiasi tertinggi pada leluhur desa, yakni Mbah Sayyid Abdullah dan Mbah Sayyid Iskandar Idris. Mereka adalah dua diantara tokoh masyarakat yang terkenang sebagai pioneer desa kisik bahkan dapat dikatakan sebagai founding father yang mendeklarasikan wilayah tersebut sebagai desa kisik.
Dalam makalah ini, penulis akan membahas tentang sejarah asal-usul desa, upacara adat masyarakat, dan warisan budaya desa kisik. Namun, makalah ini akan terfokus pada pembahasan prosesi upacara adat masyarakat desa yang dinilai sebagai hasil akulturasi kebudayaan hindu-islam.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada diskripsi latar belakang di atas, masalah penulisan makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimana sejarah asal usul desa kisik?
Bagaimana prosesi upacara adat masyarakat desa kisik yang memiliki unsur akulturasi kebudayaan hindu-islam?
Bagaimana silsilah Mbah Sayyid Abdullah dan Mbah Sayyid Iskandar sebagai pioneer and founding father desa kisik?
Apa pengaruh Makam Mbah Sayyid Iskandar Idris, Mbah Sayyid Abdullah dan beberapa warisan budaya lainnya?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
untuk mengetahui sejarah asal usul desa kisik.
untuk mengetahui prosesi upacara adat masyarkat desa kisik yang memiliki unsur akulturasi kebudayaan hindu-islam.
untuk mengetahui silsilah Mbah Sayyid Abdullah, Mbah Sayyid Iskandar Idris sebagai pioneer dan founding father desa kisik.
untuk mengetahui pengaruh makan Mbah Sayyid Abdullah dan Mbah Sayyid Iskandar Idris dan warisan budaya lainnya.

D. Batasan Penelitian
Pembahasan penelitian ini dibatasi pada sejarah asal usul desa kisik, prosesi upacara adat masyarkat desa kisik yang memiliki unsur akulturasi kebudayaan hindu-islam, silsilah Mbah Sayyid Abdullah, Mbah Sayyid Iskandar Idris sebagai pioneer dan founding father desa kisik, warisan budaya leluhur yang terdapat di desa kisik, dan pengaruh makan Mbah Sayyid Abdullah dan Mbah Sayyid Iskandar Idris dan warisan budaya lainnya terhadap kehidupan masyarakat desa kisik.

E. Penegasan Judul
Akulturasi : suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing
Kebudayaan : keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat
Hindu-islam : nama agama yang diakui di Negara Kesatuan Republik Indonesia
Dalam : terdapat
Upacara : kegiatan procedural yang tersusun
Adat : kebiasaan suatu kelompok masyarakat
Masyarakat : sekumpulan manusia yang ada dalam suatu wilayah dan memiliki pemerintahan.
Desa : tempat masyarakat dalam suatu wilayah yang memiliki peraturan (hukum) dan struktur pemerintahan
Kisik : salah satu nama desa di kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur.


BAB II
METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kepustakaan (studi literature) dan survey langsung di lapangan dengan metode observasi partisipasi, wawancara (interview), dan komparatif. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisa data model interaktif yang terdiri dari beberapa tahap, antara lain: pengumpulan data, reduksi data, analisa data dan penarikan kesimpulan. Ketiga tahap tersebut merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi pada proses analisa data hingga menemukan kesimpulan yang sesuai dengan rumusan permasalahan penelitian.
Observasi Partisipasi
Yaitu observasi yang dilakukan pengamat dengan melibatkan kedalam lingkungan obyek pengamat, yakni hidup bersama dengan masyarakat itu selama jangka waktu tertentu (tim sosiologi, 2002: 44).
Dalam hal tersebut peneliti melibatkan diri ke dalam masyarakat desa Kisik dalam acara upacara sedekah bumi dan haul mbah Sayyid iskandar Idris dan Mbah Sayyid Abdullah.
Wawancara (interview)
Pada dasarnya wawancara dalam penelitian merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh informasi atau data dengan cara bertanya langsung kepada responden atau sumber pemberi informasi (tim Sosiologi 2002 : 45).
Komperatif
Membandingkan pendapat-pendapat dari berbagai sumber informasi kemudian menarik kesimpulan dengan pendapat sendiri.
Study Literatur
Study Literatur dalam penelitian ini untuk menggali informasi yang terdapat pada perpustakaan mengenai teori-teori dasar da konsep yang telah di tentukan oleh para ahli terdahulu dan perkembangan dalam bidang yang diteliti (Sofyan Efendi, metodologi penelitian survey 1999 : 262).


BAB III
PEMBAHASAN

A. Sejarah asal usul desa kisik
Menurut data yang diperoleh dari hasil penelitian etnografi, di desa Kisik, desa kisik termasuk desa yang berada di perbukitan yang berbatas dengan beberapa desa, disebelah timur desa Kisik berbatasan dengan desa indro Delik, bagian utara terdapat tambak warga desa, sedangkan sebelah selatan terdapat perkebunan warga desa, dan di sebelah barat terdapat sawah warga desa yang bersambung dengan desa Abar-abir. Di desa Kisik juga terdapat makam yang dikeramatkan yang setiap tahunnya diadakan “upacara haul dan sedekah bumi”.
Warga desa Kisik mempunyai berbagai macam tradisi, misalnya terbangan (seni hadrah), istighosah, selametan, sedekah bumi, atraksi pencak silat dan masih banyak lagi yang semua itu masih berjalan sampai sekarang.
Dari hasil penelitian dapat diketahui asal-usul desa kisik, bahwa sebelum terbentuknya desa Kisik ada tiga buah perkembangan kecil yang terdiri dari.
1. Gisik
Perkampungan ini disebut perkampungan Gesek karena sebagian dari ini berupa lautan (segoro) yang tanah Geseknya naik kedaratan sehingga daratannya dipenuhi oleh tanah Gesek. Perkampungan ini terletak disebelah utara pesarean dan sekarang menjadi Dukuh Kisih desa Indrodelik.
2. Karang Dinoyo
Perkampungan ini terletak disebelah barat pesarean (makam) yang dikeramatkan. Konon diperkampungan ini terdapat seorang pepatah yang sangat sak ti yang bernama Karang Dinoyo. Oleh karena itu desa ini disebut Karang Dinoyo. Diperkampungan ini terdapat sumur yang dibuat oleh mbah Karang Dinoyo.
3. Jarak
Perkampungan ini terletak antara perkampungan Karang Dinoyo dan perkampungan Gesek. Diperkampungan ini banyak warga yang menanam pohon jarak sehingga di desa ini diberi nama perkampungan jarak.
Kemudian ke-3 desa tersebut disatukan oleh mbah Sayyid Iskandar Idris, mbah Abdullah dan mbah Bukhori menjadi sebuah desa yang diberi nama desa “karang jarak”.
Ada pun sumber-sumber yang diperoleh yaitu:
Ø Sumber Lisan
Yaitu dari hasil wawancara dengan bapak H. Moh. Kholil serta para tokoh sesepuh desa Kisik lainnya yang mengetahui sejarah tentang asal-usul desa Kisik.
Ø Sumber benda
Sumber ini diperoleh dari peninggalan benda-benda diantaranya:
1. Makam Sayyid Iskandar dan Sayyid Abdullah
Beliau adalah pendiri desa kisik, makamnyta sampai saat ini masih dijaga warga setempat yang setiap tahunnya diadakan haul.
2. Batu tempat bertapa
Batu ini tempat bertapanya Mbah Sayyid Iskandar dan Mbah Sayyid Abdullah. Batu ini berwarna merah dan berjumlah 5 buah.
3. Sumur Ketekul
Sumur ini terletak dilembah, dibawah makam Sayyid Iskandar dan Sayyid Abdullah yang dindingnya terbuat dari batu.
4. Pohon Asam
Pohon ini sangat tinggi dan besar, pohon ini sudah berumur ratusan tahun, disinilah tempat kudanya Sayyid Iskandar dan Sayyid Abdullah diikat.
Kuda itu berjumlah 2 yakni: berwarna coklat dan berwarna putih agak ke kuning-kuningan.
5. Gentong
Gentong ini terbuat dari tanah liat yang digunakan sebagai tempat air minum yang terletak disamping makam Sayyid Iskandar dan Sayyid Abdullah.
6. batu yang berbentuk Pipih dan Elips
Batu ini digunakan sebagai pijakan ketika Sayyid Iskandar dan Sayyid Abdullah berwudlu. Batu ini berjumlah 3 buah yang bertempat di telaga biru.
7. telaga biru
telaga ini mempunyai keajaiban yaitu airnya berwarna biru telaga ini dibuat oleh Sayyid Iskandar dan Sayyid Abdullah yang sampai saat ini dibuat sebagai tempat pemandian dan anehnya meskipun pada musim kemarau airnya tidak pernah habis (asat).

B. Akulturasi budaya Hindu-Islam dalam prosesi upacara adat
Sedekah bumi berasal dari dua kata, yakni sedekah dan bumi. Sedekah berasal dari bahasa arab yaitu shodaqoh yang artinya amalan, derma kepada orang yang miskin, selametan, kenduri, kalau digabung dengan kata bumi menjadi sedekah bumi yang maksudnya sedekah akan hasil bumi, baik hasil pertanian, perkebunan, maupun perikanan baik darat maupun air.
Esensi dari penyelenggaraan upacara adat ini adalah bentuk ekspresi rasa syukur masyarakat desa terhadap nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT melalui hasil bumi. Masyarakat desa juga meyakini bahwa dengan mensedekahkan (mengamalkan) sebagian harta mampu menolak balak (bahaya).
Di Indonesia hasil bumi tidak asing lagi. Namun dengan sebutan atau nama yang berbeda, di desa Kisik tradisi ini dikenal dengan nama “sedekahan” yang lebih popular adalah sedekah bumi.
Sedekahan / sedekah bumi ini sudah dimulai sejak sebelum kemerdekaan RI dan dilestarikan sampai saat ini. Sedekahan ini mulai ada setelah kehadiran mbah Sayyid Iskandar dan mbah Sayyid Abdullah didesa Kisik.
Sedekahan / sedekah bumi mempunyai maksud antara lain:
Ø Sedekahan/sedekah bumi merupakan manifestasi rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberi rizki kepada masyarakat desa Kisik.
Ø Sedekahan/sedekah bumi digunakan sebagai sarana bersih desa.
Dahulu upacara sedekahan/sedekah bumi dan haul mbah sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah tidak dijadikan dalam satu acara. Kemudian baru pada tahun 1960-an mulai dijadikan dalam satu acara (digabung dalam satu kegiatan) sampai saat ini.
Acara sedekah bumi dan haul biasanya dilaksanakan pada hari jum’at pahing setelah sholat jum’at. Menurut keprcayaan masyarakat desa Kisik jika tidak dilaksanakan jum’at pahing maka didesa akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Adapun yang dibawa pada saat upacara sedekah bumi dan haul desa salah satunya adalah Ancak. Ancak ini terbuat dari kayu yang dibentuk seperti tempat tidur dengan empat kaki dan diatsnya diberi beberapa jenis makanan. Ancak tersebut biasanya dibawah oleh 2 orang dengan cara dipikul. Hal ini dapat berarti bahwa ancak serta orang yang membawa tadi diibaratkan seperti rukun iman (2 orang + 4 kaki). Tujuan utama pada zaman dahulu adalah agar menimbulkan keharmonisan antara mertua dengan menantu. Dan menggambarkan keadaan bumi atau tanah pertanian masyarakat desa Kisik.
Adapun yang terdapat dalam ancak secara lebih detail adalah sebagai berikut:
a. Rengginang
Rengginang ini nterbuat dari beras ketan yang dibentuk manjadi 2 bentuk yaitu: berbentuk segi tiga dan berbentuk bulat putih dengan titik merah ditengahnya. Menurut mbah Sholeh, rengginang ini disebut tape-tape ditap dan dipepe-pepe. Rengginang yang segi tiga ini yang juga berwarna merah putih ini dipasang empat buah dan diletakkan disudut ancak. Empat buah tersebut menggambarkan Al-Qur’an, Hadits, Ijma’, kiyas yang merupakan dasar hokum islam yang dipakai oleh masyarakat desa Kisik. Warna merah putih ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan.
b. Nasi ketan, lauk-pauk dan buah-buahan
Menggambarkan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan masyarakat desa Kisik.
c. Roti berbentuk ikan dan berbentuk kerang (udang)
Roti berbentuk ikan ini menggambarkan hasil bumi masyarakat desa Kisik dari hasil perikanan, karena masa panen masyarakat tidak bias bersama-sama, maka roti ini sebagai symbol pengganti ikan. Hal ini berarti hasil pertanian desa Kisik tidak terfokus pada pertanian darat saja tetapi pada pertanian tambak (perikanan)
d. Sate sapi
Sate sapi ada 5 tusuk yang diletakkan diatas ancak. Hal ini diibaratkan sebagai rukun islam. Tujuan dimasukkannya sate sapi dalam upacara sedekah bumi adalah mengandung nilai kebersamaan karena daging yang dipakai untuk upacara tersebut dibeli secara urunan oleh warga desa Kisik.

e. Daun pisang
Daun pisang ini berfungsi sebagai penutup ancak. Daun pisang ini dipilih karena mengandung arti bahwa pada zaman dahulu masyarakat desa Kisik menanam buah-buahan dan bukan kertas, selain itu pisang adalah makhluk Allah SWT yang tidak kenal putus asa dan juga kehidupan masyarakat islam dikisik harusnya seperti pohon pisang yang sebelum berbuah tidak akan mati, artinya: sebelum manusia mendapatkan sejatinya hidup maka tidak boleh putus asa.
Prosesi mempunyai makna pawai kalimat / perarakan dalam suatu upacara, jadi prosesi upacara sedekah bumi dan haul mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah adalah serangkaian kegiatan / urutan kegiatan dalam rangka menyambut upacara sedekah bumi dan haul.
Prosesi upacara sedekah bumi dan haul mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah berada dengan upacara-upacara sedekah bumi yang lainnya, yakni merupakan penggabungan antara dua unsur kebudayaan, yaitu kebudayaan prasejarah (cenderung pada budaya hindu) dan kebudayaan islam. Tetapi yang sangat nampak adalah kebudayaan islamnya. Pada setiap kegiatan prosesi tersebut sebelumnya dan sesudahnya diadakan serangkaian acara.
Adapun serangkaian acara dalam rangka menyambut sedekah bumi dan haul mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah pada tanggal 22 agustus 2008 adalah sebagai berikut:
ü Tanggal 11-18 agustus 2008 diadakan sepak bola antar RT
ü Tanggal 19 agustus 2008 (pagi) diadakan tadarus Qur’an bil ghoib di masjid.
ü Tanggal 19 agustus 2008 (malam) diadakan istighosah tiryaqul ghofilin ala robbil haddad.
ü Tanggal 20 agustus 2008 (pagi) diadakan tadarus Al-qur’an bin nadhor dipesantren (komplek makam mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah) yang dilakukan oleh ibu-ibu dari muslimat dan fatayat.
ü Tanggal 20 agustus 2008 (malam) diadakan istighosah wali songo dipesarean.
ü Tanggal 20 agustus (malam) diadakan istighosah muslimat di masjid Baitul Mushoddiqin Kisik.
ü Tanggal 21 agustus 2008 (pagi) diadakan tadarus al-Qur’an bin nadhor di pesantren oleh bapak-bapak.
ü Tanggal 21 agustus 2008 (malam) diadakan seni hadrah di masjid jami’ Baitul Mushoddiqin yang dihadiri oleh jamaah se-kecamatan Bungah, sebagian kecamatan sedayu, dan sebagian lagi kecamatan Manyar.
ü Tanggal 22 agustus 2008 (ba’da sholat jum’at) diadakan prosesi upacara sedekah bumi dan haul dengan acara tahlil bersama pengajian.
ü Tanggal 22 agustus 2008 (malam) sekaligus penutup, diadakan Atraksi pencak silat yang merupakan budaya asli desa Kisik. Secara turun temurun yang terkenal dengan macan yang paling sakti se-kecamatan Bungah (sumber: bapak sa’ad, pimpinan IPSI bintang sakti).

Sekilas gambaran prosesi upacara adat masyarakat desa kisik tersebut nampak nilai-nilai akulturasi kebudayaan agama hindu, yakni mengekspresikan atau mengaktualisasikan bentuk kepatuhan (ketaqwaan) melalui sesembahan atau sesaji (berupa benda atau makanan) dalam hal ini adalah variasi makanan yang disajikan di atas Ancak. Dalam upacara adat masyrarakat desa kisik ini, esesensi dari makanan tersebut bukanlah untuk dipersembahkan ke leluhur namun dijadikan sebagai hidangan pengunjung setelah acara inti upacara telah selesai dilaksanakan.
Masyarakat hindu sering melakukan upacara adat dengan memberikan sesaji kepada leluhur baik berupa makanan maupun benda-benda yang lain. Selain itu, adat tahlilan merupakan bentuk akulturasi budaya masyarakat hindu ketika menyajikan sesaji, yakni membaca mantra-mantra. Namun, oleh masyarakat islam dirubah bacaannya yang diambil dari Al qur’an atau kitab yang lain dan dikenal sebagai tahlilan atau istighosah.
Jika ditelilti secara eksplisit, upacara adat masyarakat desa kisik yang diselenggarakan di area makam Mbah Sayyid Abdullah dan Mbah Sayyid Iskandar Idris ini cenderung mengarah kepada ritual perayaan kematian leluhur dengan menghidangkan berbagai sesaji (makanan) dan melakukan kegiatan-kegiatan secara berurutan di atas. Namun, jika diteliti secara implicit dan mendalam bahwa sesungguhnya upacara adat tersebut mengaju pada ajaran agama islam, yakni mensyukuri nikmat Allah SWT yang diberikan kepada masyarakat melalui hasil bumi
Kebudayaan hindu yang teraktualisasikan dalam kebudayaan islam tersebut memberikan tambahan warisan budaya Indonesia yang dapat dijadikan cermin masyarakat lain untuk mengambil nilai positif bukan pada hal yang mengarah pada perpecahan masyarakat antar agama. Semua yang dilakukan oleh setiap manusia (masyarakat) memiliki tendensi tersendiri. Namun. Hubungan manusia dan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan makhluk lainnya harus dijaga keharmonisannya.

C. Silsilah mbah sayyid abdullah, mbah sayyid iskandar idris sebagai pioneer dan founding father desa kisik
Mengenai silsilah mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah belum diketahui secara pasti. Sebab sampai saat ini belum ada yang berhasil melakukan pencarian silsilah tersebut sampai tuntas, namun dari data yang kami peroleh, dari silsilah pangeran Ibnu Sukarso/sultan Syah Alam Akbar (ngabar) yang makamnya terdapat di desa Sukorejo Bungah Gresik. Mbah Sayyid Iskandar merupakan teman seperguruan dari pangeran Ibnu Sukarso dengan guru yang bernama Ranji Maulana Kholikul Akbar. Akan tetapi, mbah Sayyid Iskandar adalah seorang ulama yang dating dari derajat bersama dengan dua orang temannya dan masih ada hubungannya dengan Joko Tingkir (lamongan) sedangkan mbah Sayyid Abdullah adalah menantu beliau.
Semasa hidupnya, mbah Sayyid Iskandar dan mbah Sayyid Abdullah mempunyai amalan yang berbeda satu sama yang lain dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mbah Sayyid Iskandar Idris banyak melakukan amalan puasa tetapi suka tidur, sedangkan mbah Sayyid Abdullah melakukan jarang puasa tetapi tidak suka tidur (mele’an). Namun keduanya punya keistimewaan masing-masing. Salah satunya pada suatu saat mbah Sayyid Iskandar merasa kesal kepada mbah Sayyid Abdullah. Mbah Sayyid Abdullah menghabiskan semua makanan karena begitu kesalnya tempat untuk menanak nasi (pendil) dipoecahkan oleh mbah Sayyid Iskandar Idris, kemudian Mbah Sayyid Iskandar menyesali perbuatannya dan menyuruh mbah Sayyid Abdullah untuk mengembalikan pendil yang telah pecah tadi ke keadaan semula. Dengan bantuan Allah SWT pendil yang pecah tersebut dikembalikan dengan kekaromahan mbah Sayyid Abdullah, tetapi dengan rendah hati mbah Sayyid Abdullah mengatakan kalau pendil yang ada sekarang adalah hasil pembeliannya dari pasar.
Salah satu usaha yang dilakukan oleh mbah Sayyid Iskandar dan mbah Sayyid Abdullah dalam menyebarkan agama islam, yakni dengan mendirikan masjid. Masjid tersebut terbuat dari batu bata yang ditumpuk /disusun satu persatu. Ketika bangunan masjid sudah hampir selesai, tiba-tiba bangunan itu ambruk karena masyarakat desa Kisik telah melanggar pesan yagn diberikan oleh mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah. Pesan tersebut agar jangan mengambil nasi dari tempatnya sampai padaalas-alasnya. Maksudnya jangan berlebih-lebihan. Batu bata yang akan digunakan tersebut sampai sekarang masih terdapat diranda langgar, tepatnya didesa Kisik Delik (sumber H. Moh. Qosyim)

D. Pengaruh makan mbah sayyid abdullah dan mbah sayyid iskandar idris dan warisan budaya lainnya

Mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid Abdullah mempunyai pengaruh terhadap masyarakat desa Kisik dan daerah sekitar banyak orang berdatangan ke Makam tersebut untuk berziarah mencari barokahnya dan yang untuk mendalami suatu ilmu kanuragan dan ingin menjdai ahli metafisik. Pada malam-malam tertentu seperti malam jum’at legi, jum’at kliwon dan jum’at wage banyak orang dating untuk melakukan seperti kegiatan tersebut. Dari sekian banyak orang dating kesana meraka ada yang memperoleh benda-benda pusaka antara lain keris, akik, pecut/cemeti, merah delima, boneka kencono (golek kencono) yang konon bias membuat wanita mabuk cinta kepada orang yang memilikinya. Tetapi tidak sembarang bias mendapatkannya. Harus melalui proses yang panjang seperti ritual, berpuasa, mele’an dzikir. Dan lain-lain.
Makam ini adalah makam seorang yang pandai memancing dilaut/pesisir. Makam ini sering di datangai oleh orang untuk berziarah dan mencari benda pusaka yang kebanyakan adalah para pencari ikan/nelayan.
Ø Makam buyut Uplek
Makam ini adalah makam seorang pengambil air yang menggunakan buyung untuk mengisi gentong dan gentong ini dilubangi sehingga tidak bias penuh. Pada saat ketika ada seorang penjajah belanda meneropong komplek makam buyut Uplik dia melihat kuburan Buyut Uplik kelihatannya seperti rumah yang terbuat dari emas dan buyung yang digunakan untuk mengambil air terbuat dari emas. Orang yang dating kemakam buyut Uplik biasanya untuk mencari ilmu kesaktiannya/ingin menjadi ahli metafisik.
Ø Makam buyut Keramat
Makam ini terdapat di dusun Kisik Delik. Biasanya orang dating kesini untuk berziarah dan mencari berkah.
Ø Gunung Pentung
Dinamakan gunung pentung karena dahulu terjadi perkelahian antara seorang mubaligh dengan seorang perampok yang bersenjata pentungan. Dalam perkelahian tersebut seorang kepala perampok tewas dan akhirnya Gunung tersebut dinamakan gunung pentung. Digunung pentung terdapat makam Raden sakti yakni R.H.Abdul Faqih.
Tempat ini digunakan untuk berziarah dan mele’an dan disekitar gunung pentung dijadikan tempat untuk mencari pesugihan (sumber: M. Mukhtar, juru kunci).
Ø Bolo Dewo
Katanya tempat ini merupakan tempat persembunyian pendukung kerajaan majapahit untuk menghindari serangan musuh. Tempat ini sekarang dihuni oleh kera putih (anoman) (sumber: H. Moh. Kholil)
Ø Telaga Biru
Tempat ini merupakan tempat mbah Sayyid Iskandar dan mbah Sayyid Abdullah mengambil air Wudlu. Dahulu air ini berwarna biru sehingga dinamakan telaga biru. Tempat ini diyakini masyarakat sebagai tempat yang angker.


BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai sejarah asal usul desa kisik, prosesi upacara adat masyarakat desa kisik, silsilah dan pengaruh makam Mbah Sayyid Abdullah, Mbah Sayyid Iskandar Idris, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sebelum terbentuknya desa kisik terdapat tiga perkampungan kecil di dalamnya, yakni Gisi, Karang Diniyo, dan Jarak. Kemudian ke-3 desa tersebut disatukan oleh mbah Sayyid Iskandar Idris, mbah Abdullah dan mbah Bukhori menjadi sebuah desa yang diberi nama desa “karang jarak”.
2. Upacara adat masyarakat desa kisik di kemas dalam kegiatan yang disebut Sedekah Bumi, mengamalkan hasil bumi kepada orang lain. Hasil bumi tersebut mencakup tiga aspek, yakni hasil laut, kebun, dan sawah yang diolah menjadi makanan. Kemudian ditempat di atas sebuah tempat yang disebut Ancak. Antara lain: rengginang, nasi ketan, lauk-pauk dan buah-buahan, roti berbentuk ikan dan berbentuk kerang (udang), dan sate sapi serta daun pisang.
3. Berdasarkan sumber yang diperoleh bahwa silsilah mbah Sayyid Iskandar Idris dan mbah Sayyid berasal dari silsilah pangeran Ibnu Sukarso/sultan Syah Alam Akbar (ngabar) yang makamnya terdapat di desa Sukorejo Bungah Gresik. Mbah Sayyid Iskandar merupakan teman seperguruan dari pangeran Ibnu Sukarso dengan guru yang bernama Ranji Maulana Kholikul Akbar. Akan tetapi, mbah Sayyid Iskandar adalah seorang ulama yang dating dari derajat bersama dengan dua orang temannya dan masih ada hubungannya dengan Joko Tingkir (lamongan) sedangkan mbah Sayyid Abdullah adalah menantu beliau.
4. Terdapat beberapa tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat desa kisik, seperti Makam buyut Uplek, Makam buyut Keramat, Gunung Pentung, Bolo Dewo, dan Telaga Biru

B. Saran
Berdasarkan penelitian di atas, maka penulis menyarankan kepada para pembaca untuk menindak lanjuti penelitian ini untuk mendapatkan data perkembangan mengenai sejarah asal usul desa kisik, prosesi upacara adat masyarakat, silsilah pioneer dan founding father masyarkat desa kisik, serta warisan budaya leluhur secara lebih jelas berdasarkan sumber lisan atau tulis yang valid.

DAFTAR PUSTAKA